Nikah Sirri

PEMBAHASAN
Nikah Sirri
Sebelum kita membahas tentang nikah sirri, ada baiknya kita membahas tentang apa itu nikah, bagaimana definisinya, hukumnya, macam-macamnya, dan lain-lain.

A. Definisi Nikah
Nikah menurut bahasa artinya: kumpul. Menurut istilah ialah: akad yang dapat menghalalkan adanya persetubuhan.
Menurut Perpektif UU No 1/1974 pasal 1 ayat 2, perkawinan didefinisikan sebagai : ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga, rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

B. Sumber Hukum Nikah
Sumber hukum perkawinan dalam islam diantaranya:
1. Surat yasin ayat 36

             
Artinya:
Maha suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.

2. Surat An-Nisa’ ayat 1
 ••                 •       •     
Artinya:
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

3. Surat Ar rum ayat 21
            ••   •      
Artinya:
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

4. Al Baqarah ayat 221
                               •     •      ••   

Artinya:
Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.

5. An-Nisa’ ayat 22-24

                     •         •      •                                                    •  •                            •     
Artinya:
Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu Amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).
Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. dan Dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan Tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

6. Surat Al maidah ayat 5

 •                                             
Artinya:
Pada hari ini Dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (dan Dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) Maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat Termasuk orang-orang merugi.

7. Surat An-Nur ayat 32

                   
Artinya:
Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui.
Disamping itu, Nabi bersabda tentang pernikahan:
النكاح سنتى فمن رغب عن سنتى فليس منى
“Nikah adalah sunnahku, maka barang siapa yang tidak senang kepada sunnahku maka dia bukan ummatku”.
انكحوا الولود
“Nikahlah dengan perempuan yang banyak anak.”

C. Hukum Nikah

1. Wajib
Nikah itu wajib bagi orang yang telah mempunyai keinginan yang kuat untuk kawin, dan sudah memiliki kemampuan untuk melaksanakan dan memikul beban kewajiban dalam hidup perkawinan, serta ada rasa khawatir apabila ia tidak kawin akan bisa tergelincir dalam perbuatan yang dilarang oleh syara’, seperti zina.

2. Sunnah
Nikah itu disunnahkan bagi seseorang yang telah berkeinginan kuat untuk kawin, serta telah memiliki kemampuan untuk melaksanakan dan memikul tanggung jawab dalam pernikahan itu, namun sesungguhnya ia belum merasa khawatir jika belum kawin ia akan melakukan perbuatan zina.

3. Mubah
Pernikahan hukumnya mubah bagi seseorang yang mempunyai harta, akan tetapi kalaupun tidak kawin ia tidak merasa khawatir akan berbuat zina, dan andaikata kawinpun ia tidak merasa khawatir akan menyia-nyiakan kewajibannya terhadap istrinya.

4. Makruh
Pernikahan itu makruh bagi seseorang yang telah mampu dari segi materiel, cukup memiliki kemampuan untuk menjaga keperwiraannya, akan tetapi mempunyai kekhawatiran tidak dapat memenuhi berbagai kewajiban terhadap istrinya, sekalipun tidak sampai menyusahkannya.

5. Haram
Nikah itu hukumnya haram bagi seseorang yang telah berkeinginan kuat untuk kawin, namun tidak mempunyai kemampuan untuk melaksanakan kewajibannya sebagai suami, hingga kalau ia kawin akan berakibat menelantarkan dan menyusahkan istrinya atau bahkan hanya menyakiti istrinya.

C. Macam-macam pernikahan

1. Nikah mut’ah
Nikah mut’ah biasa dikenal dengan kawin kontrak. Pada awal permulaan islam pernikahan ini diperbolehkan, namun kemudian dilarang. Diperbolehkannya nikah mut’ah pada saat itu karena pada awal islam, umat muslim adalah minoritas dan sering berperang. Banyak diantara mereka tidak dapat menikah dan membangun keluarga karena mereka senantiasa dipanggil untuk melakukan perjalanan jauh dan berperang dengan orang kafir. Karena mereka baru saja masuk islam, mereka terbiasa dengan kehidupan seksual arab pra islam. Ketika mereka menjadi muslim, dengan ajaran yang ketat soal hubungan seksual, akan sulit bagi mereka jika berperang dengan tanpa kesempatan memuaskan hasrat seksual mereka. Maka wajarlah jika mereka diperbolehkan untuk melakukan pernikahan sementara.

Hadist Sabra yang disampaikan Muslim mengonfirmasikan tentang kebolehan nikah mut’ah tersebut : “Rasulullah memberi kami izin untuk melakukan mut’ah pada hari penaklukan Mekah ketika kami memasuki kota ini. Kemudian setelah dia meninggalkan kota ini, dia melarangnya sekali lagi”. Namun setelah itu Ibn Majah menyampaikan bahwa Rasulullah berkata: “Wahai kalian semua, aku izinkan kalian untuk melaksanakan mut’ah, tetapi Allah telah melarangnya sampai hari kiamat.” Dengan melihat hal tersebut telah jelas bahwa mut’ah itu dilarang pada saat ini dan seterusnya.

2. Kawin Lintas Agama
Secara umum, perkawinan muslim dengan non muslim itu diharamkan. Namun ada pengecualian terhadap kasus laki-laki muslim yang mengawini perempuan ahli kitab. Laki-laki muslim diperbolehkan mengawini perempuan ahli kitab berdasar pengkhususan QS. Al-Maidah ayat 5. Pengertian Ahli kitab disini mengacu pada rumpun semitik sebelum islam, yakni yahudi dan Nasrani.

Perempuan Ahli Kitab itu berbeda dengan perempuan musyrik. Perempuan musyrik tidak memiliki agama yang melarang berkhianat, mewajibkan berbuat amanah, memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Apa yang dikerjakan dan pergaulannya dipengaruhi ajaran-ajaran kemusyrikan, yakni khurafat dan spekulasi (teologis) atau lamunan dan bayangan yang dbisikkan syetan. Inilah yang bisa menyebabkan ia mengkhianati suaminya dan merusak akidah anak-anaknya.

Sedangkan perempuan ahli kitab itu adalah perempuan yang mengimani Allah dan menyembah-Nya, beriman kepada Nabi, hari akhirat beserta pembalasannya, dan menganut agama yang mewajibkan berbuat baik dan mengharamkan kemungkaran. Hanya saja perempuan ahli kitab itu tidak mengimani Nabi Muhammad. Padahal orang yang beriman kepada kenabian universal tidak akan mempunyai halangan mengimani Nabi penutup, yakni Nabi Muhammad, kecuali dengan kebodohannya. Sehingga perempuan Ahli Kitab yang bergaul dengan suami yang menganut agama dan syari’at yang baik maka sangat terbuka peluang baginya untuk mengikuti agama suaminya.

Namun kasus diatas berbeda jika perempuan muslimah menikah dengan non muslim. Semua ulama sepakat bahwa perempuan muslimah diharamkan menikah dengan laki-laki non muslim, baik ahli kitab atau musyrik.

Argumen tentang sebab diharamkannya perempuan muslim menikah dengan laki-laki non muslim adalah sebagai berikut:
a. Orang kafir tidak boleh mengusai orang islam berdasarkan QS. An-Nisa ayat 141: “….dan Allah takkan member jalan orang kafir itu mengalahkan orang mukmin.

b. Laki-laki kafir dan ahli kitab tidak akan mau mengerti agama istrinya yang muslimah, malah sebaliknya mendustakan kitab dan mengingkari ajaran nabinya.

c. Dalam rumah tangga campuran, pasangan suami istri tidak mungkin tinggal dan hidup bersama karena perbedaan yang jauh.

3. Nikah Sirri
Kata “Sirri” dari segi etimologi berasal dari bahasa Arab, yang arti harfiyahnya, “rahasia” (secret marriage). Menurut Terminologi Fiqh Maliki, Nikah sirri, ialah: “Nikah yang atas pesan suami, para saksi merahasiakannya untuk isterinya atau jama‟ahnya, sekalipun keluarga setempat”

Madzhab Maliki tidak membolehkan nikah sirri. Nikahnya dapat dibatalkan, dan kedua pelakunya bisa dikenakan hukuman had (dera atau rajam), jika telah terjadi hubungan seksual antara keduanya dan diakuinya atau dengan kesaksian empat orang saksi. Demikian juga Madzhab Syafi‟I dan Hanafi tidak membolehkan nikah sirri. Menurut madzhab Hambali, nikah yang telah dilangsungkan menurut ketentuan syari‟at Islam adalah sah, meskipun dirahasiakan oleh kedua mempelai, wali dan para saksinya. Hanya saja hukumnya makruh. Menurut suatu riwayat, Khalifah Umar bin al-Khatthab pernah mengancam pelaku nikah sirri dengan hukuman had.

Menurut hemat penulis, nikah sirri menurut terminologi fiqh tersebut adalah tidak sah. Sebab, nikah sirri itu selain bisa mengundang fitnah, tuhmah dan buruk sangka, juga bertentangan dengan hadis-hadis Nabi, antara lain :
1. Artinya:

“Adakanlah pesta perkawinan, sekalipun hanya dengan hidangan kambing”.(HR.Bukahri Muslim dll dari Anas).
2. Artinya:

“Umumkanlah nikah ini, dan laksanakanlah di masjid, serta ramaikanlah dengan menabuh terbang.” (HR. al-Tirmidzi dari “Aisyah).

Sedangkan pada kalangan masyarakat Islam Indonesia, pengertian nikah sirri ada 3 (tiga) tipe:

Pertama, nikah sirri diartikan sebagai nikah yang dilangsungkan menurut ketentuan syari‟at Islam (telah memenuhi rukun dan syaratnya), tetapi masih bersifat intern keluarga, belum dilakukan pencatatan oleh PPN, dan belum diadakan upacara menurut Islam dan adat (walimatul‟urusy/resepsi perkawinan dengan segala bunga rampainya.

Pada tipe pertama ini, suami isteri belum tinggal dan hidup bersama sebagai suami isteri, karena si isteri belum tinggal dan hidup dewasa. Biasanya si suami sementara menunggu kedewasaan si isteri, ia belajar di pondok pesantren atau tinggal bersama mertua untuk membantu pekerjaan mertua. Motif nikahnya adalah untuk ketenangan, persiapan, dan kehalalan bahkan mungkin juga sebagai “kebanggaan” orang tua si gadis kecil”.

Kedua, nikah sirri diartikan sebagai nikah yang telah memenuhi ketentuan syariat Islam, dan juga sudah dilangsungkan di hadapan PPN dan telah pula diberikan salinan akta nikah kepada kedua mempelai karena calon suami isteri sudah memenuhi syarat-syarat sahnya nikah menurut hukum positif, termasuk telah mencapai minimal usia kawin (Pasal 7 UU 1/1974). Namun, nikahnya masih dilangsungkan dalam lingkungan intern keluarga dan handai tolan yang sangat terbatas, belum diadakan resepsi pekawinan.

Pada tipe kedua ini kedua insan yang berlainan jenis kelaminnya itu belum tinggal dan hidup bersama sebagai suami isteri, karena mungkin salah satu atau keduanya masih sedang menyelesaikan studinya atau training kepegawaian atau perusahaan, atau belum mendapatkan pekerjaan tetap sekalipun sudah sarjana.Motif nikahnya itu terutama untuk mendapatkan ketenangan, persiapan dan kehalalan.

Ketiga, nikah sirri diartikan sebagai nikah yang hanya dilangsungkan menurut ketentuan syariat Islam, karena terbentur pada PP Nomor 10/1983 jo PP 45/1990 tentang izin perkawinan dan perceraian bagi PNS. Pada tipe ketiga ini calon suami mengawini calon isteri secara diam-diam dan dirahasiakan hubungannya sebagai suami isteri untuk menghindari hukuman disiplin berupa pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai PNS (vide: PP No.10/1983 pasal 4 ayat (1) dan (13).

Motif nikahnya itu terutama untuk pemenuhan kebutuhan biologis yang halal (terhindar dari perbuatan zina menurut hukum Islam). Sayang, nikahnya tanpa persetujuan isteri yang terdahulu, atasannya, dan pejabat yang berwenang serta tanpa izin Pengadilan Agama.

Menurut hemat penulis, nikah tipe pertama sebenarnya bukan nikah sirri, karena tidak ada unsur “sirri”. Yang terjadi adalah kawin anak-anak, yang menurut fiqh sunni tidak dilarang (sah), berdasarkan sunnah Nabi SAW yang menikahi „Aisyah ra yang belum baligh; sedangkan menurut Ibnu Syubrumah al-Dzahiri, nikah anak-anak tidak boleh dan tidak sah), karena banyak mudlaratnya. Dan berhubung keadaan masyarakat kini telah jauh berubah ketimbang masyarakat di zaman Rasulullah SAW sebagai akibat kemajuan IPTEK, data statistik menunjukkan kawin anak-anak banyak membawa broken home, maka negara-negara Islam termasuk Indonesia melarang kawin anak-anak, dan menetapkan batas minimal usia perkawian (karena alasan maslahah murslah).Pasal 7 ayat (1) dan ayat (2) UU No..1/1974 tentang perkawinan menetapkan minimal usia kawin untuk pria 19 tahun dan untuk wanita 16 tahun. Tetapi Pengadilan bisa diminta memberi dispensasi , jika ada alasan yang cukup.

Nikah tipe kedua, tampaknya juga tidak tepat disebut nikah sirri, karena tidak ada unsur “sirri” dan motif/niat nikahnya baik. Maka sahlah nikahnya menurut hukum Islam dan juga menurut hukum positif, karena nikahnya telah dilangsungkan menurut syariat Islam da juga sudah dicatat oleh PPN, sekalipun belum /tidak diramaikan dengan walimatul „urusy dan tabuhan terbang/gamelan dan sebagainya karena bukan rukun dan bukan syarat nikah, melainkan perintah sunnah (recomanded).

Adapun nikah tipe ketiga itulah yang benar-benar bisa disebut “nikah sirri”, yang dilarang oleh Islam, karena niat nikahnya dan prakteknya jelek, sebab bisa merusak rumah tangga orang dan bisa merusak moral suami, serta dapat mendorong suami berbuat kolusi dan korupsi, karena punya isteri simpanan alias WIL yang bermasalah itu. Demikian pula , hukum positif melarang nikah tipe ketiga, karena melanggar PP Nomor 10/1983 jo.PP 45/1990 tentang izin perkawinan dan perceraian bagi PNS.

4. Nikah dibawah Tangan
Dikalangan masyarat, nikah dibawah tangan sering kali diartikan dengan nikah sirri. Namun hal itu berbeda. Istilah “Nikah Di Bawah Tangan” adalah nikah tanpa adanya suatu pencatatan pada instansi yang telah ditentukan oleh peraturan perundang-undangan. Nikah ini hukumnya sah menurut hukum Islam sepanjang tidak ada motif “sirri”, tentunya juga telah memenuhi ketentuan syari’ah yang benar.
Nikah dibawah tangan ini hanya berhubungan dengan persoalan pencatatan perkawinan saja. Sebenarnya, ketentuan pencatatan perkawinan itu hanyalah masalah administrasi Negara saja dan tidak ada hubungannya dengan kategori sah atau tidak sahnya sebuah perkawinan. Namun sebagai warga Negara yang baik, kita hendaknya mematuhi perundang-undangan Negara selama itu tidak bertentangan dengan syari’at islam. Begitu juga dengan masalah pencatatan perkawinan, pencatatan perkawinan itu tidak bertentangan dengan jiwa syari’ah islam, bahkan bertujuan melindungi pihak-pihak (terutama perempuan) agar tidak dirugikan karena seringkali perkawinan yang tidak dicatat akan menimbulkan kesengsaraan bagi pihak istri yang ditinggal suaminya tanpa tanggung jawab yang jelas.

DAFTAR PUSTAKA
Nuruddin, Amiur, Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta, Prenada Media: 2004).
Thalib, Suyuti, Hukum Kekeluargaan Indonesia, (Jakarta, UI-Press: 1986).
Idris, Abdul Fatah, Fiqih Islam Lengkap, (Jakarta, Rineka Cipta: 1998).
Kamal, Mustafa, Fikih Islam, (Jogjakarta, Citra Karsa Mandiri: 2002).
Murata, Sachiko, Lebih Jelas Tentang Mut’ah Perdebatan Sunni dan Syi’ah, (Jakarta, RajaGrafindo Persada: 2001).
Suhadi, Kawin Lintas Agama, (Yogyakarta, LKiS: 2006).
Syaukani, Rekontruksi Epistemologi Hukum Islam Indonesia, (Jakarta, RajaGrafindo Persada: 2006).
http://hukum.kompasiana.com
http://www.badilag.net

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s