TASAWUF DAN SYARI’AH

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kebanyakan orang yang menempuh jalan sufi meragukan keharusan menjalani syari’at. Dan ada juga ahli syari’at yang tidak mengetahui tentang tasawuf dan ketidaktahuannya itu membuatnya untuk mengingkarinya. Sebagian orang yang mengaku dirinya sebagai sufi banyak yang telah terjerumus. Mereka mengingkari kebutuhan syari’at atau mengabaikan pengalamannya. Tidaklah wajar atau bukanlah watak seorang sufi untuk tidak mengetahui bidang syari’at walaupun dari segi amaliahnya. Hal ini karena tasawuf meliputi syari’at.

B. RUMUSAN MASALAH
1) Apa tasawuf itu?
2) Apa syari’at itu?
3) Bagaimanakah hubungannya tasawuf dan syari’at?

C. TUJUAN
1) Untuk mengetahui bagaimana tasawuf.
2) Untuk mengetahui tentang syar’at.
3) Agar kita memahami tentang hubungan tasawuf dan syari’at.

BAB II
PEMBAHASAN
TASAWUF DAN SYARI’AH
A. DEFINISI TASAWUF
Dalam mendefinisikan tasawuf, kebanyakan manusia condong pada segi akhlak. Kecenderungan ini telah tersebar baik dilingkungan kaum sufi sendiri maupun para peneliti dan sejarawan tasawuf. Seperti contoh Syeikh Abu Bakar Al-Kattani (wafat tahun 322 H) berkata: “Tasawuf adalah akhlak, maka barang siapa yang bertambah baik akhlaknya maka, tentulah akan bertambah mantap pula tasawufnya”. Dan Ar-Risalah Al-Qusyairiah meriwayatkan, ketika Abu Muhammad Al-Jariiri ditanya tentang tasawuf,ia menjawab: “Tasawuf berarti memasuki setiap akhlak yang mulia dan keluar dari setiap akhlak tercela.”

Dan Tasawuf itu adalah salah satu cabang ilmu Islam yang yang menekankan aspek spiritual dari islam. Spiritual ini dapat mengambil bentuk yang beraneka didalamnya. Dalam kaitannya dengan manusia, tasawuf lebih menekankan aspek rohaninya daripada aspek jasmani. Dalam kaitannya dengan kehidupan, ia lebih menekankan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia. Sedangkan dalam kaitannya dengan pemahaman keagamaan, ia lebih menekankan aspek esoteric daripada eksoterik, lebih menekankan penafsiran batin daripada lahiriah.

B. DEFINISI SYARI’AT
Secara harfiah syari’at berarti jalan yang lempang atau jalan yang dilalui air terjun. Sedang dalam konteks islam syari’at pada awalnya berarti ketentuan yang ditetapkan oleh Allah untuk para hambanya melalui rasulnya, baik ketentuan mengenai perbuatan lahiriah, yaitu ibadah dan mu’amalat, maupun batiniah seperti akidah, akhlak dan tasawuf. Tetapi dalam perkembangannya kata “syari’at” mengalami penyempitan arti, yaitu hanya mengenai perbuatan lahiriah. Sedang yang mengenai perbuatan batiniah disebut akidah, akhlak dan tasawuf.

Sejalan dengan itu Sayyed Hossein Nasr menjelaskan bahwa syari’at diturunkan secara etimologis dari kata “jalan”. Ia merupakan jalan yang membawa orang kepada Tuhan, ia adalah perlambang yang menarik bahwa baik syari’at maupun tariqah yang merupakan dimensi esitoris Islam didasarkan pada simbolisme tentang perjalanan. Semua kehidupan merupakan perjalanan melalui dunia yang fana kearah keadilan Tuhan.

Syari’at adalah jalan yang lebar yang dimaksudkan untuk semua orang dengan mana mereka akan mampu mencapai segala kemungkinan yang terkandung dalam kehidupan manusiawi. Syari’at adalah hokum Tuhan, dalam pengertian ia merupakan pelembagaan kehendakNya, dengan mana manusia harus hidup secara pribadi dan bermasyarakat.

Syari’at berisi perintah agung yang mengatur segala keadaan dalam kehidupan. Ia adalah hokum sesuai dengan mana manusia harus hidup seperti yang diinginkan olehNya. Karena itu ia menjadi petunjuk tindakan manusia dan ia mencakup segala segi kehidupan. Dengan mempertimbangkan segenap aspek kehidupan manusiawi syari’at mensucikan kehidupan dan memberikan arti religius kepada hal-hal yang tampak paling duniawi sekalipun.

Kesalah pahaman tentang pentingnya arti syari’at didunia barat disebakan oleh sifatnya yang konkret dan mencakup segala hal. Seorang yahudi yang mempercayai hokum Talmud dapat memahami arti syari’at, sedangkan kebanyakan penganut Kristen dan dengan sendirinya para sekularis dengan latar belakang Kristen sulit memahami hal ini karena dalam Kristen tidak ada pemisahan. Dalam Kristen hokum Tuhan diekspresikan dalam ajaran-ajaran umum seperti ajaran bermurah hati, bukan dalam hokum-hukum yang konkret.

C. HUBUNGAN TASAWUF DENGAN SYARI’AT
Syari’at adalah cara formal untuk melaksanakan peribadatan kepada Allah, yang dirujuk oleh Al qur’an sebagai tujuan utama penciptaan manusia (Q.S. 51:56). Sedangkan tasawuf seperti yang diisyaratkan dalam definisi ihsan: “Engkau beribadah seakan-akan melihat Tuhan, seandainya engkau tidak melihat-Nya, niscaya dia melihatmu”, merupakan pelengkap dari ibadah tersebut. Oleh karena itu, antara syari’at dan tarekat seharusnya tidak boleh dipisahkan tanpa menimbulkan masalah.

Syari’at yang dilakukan tanpa memperhatikan unsur tasawuf adalah seperti sebuah bangunan kosong dan belum dihias. Sedangkan tasawuf tanpa syari’at akan seperti hiasan tanpa yang dihias, sehingga hanya akan menjadi tumpukan barang yang acak.
Sebagai sistem ajaran keagamaan yang lengkap dan utuh, Islam memberi tempat kepada jenis penghayatan keagamaan eksoterik (zhahiri, lahiri) dan esoterik (bathini). Namun dalam kenyataannya, tidak sedikit kaum muslim yang penghayatan keislamannya lebih mengarah kepada yang lahiri dan banyak pula yang lebih mengarah kepada yang batini. Kaum syari’ah yaitu mereka yang lebih menitikberatkan perhatian kepada segi syari’ah atau hukum (disebut dengan kaum lahiri). Sementara kaum thariqah yaitu mereka yang berkecimpung dalam amalan-amalan tarikat (dinamakan kaum batini).

Dalam sejarah pemikiran islam, antara kedua orientasi penghayatan keagamaan itu sempat terjadi ketegangan dan polemik, dengan sikap-sikap yang saling menuduh bahwa lawannya adalah penyeleweng dari agama (sesat), atau penghayatan keagamaan mereka tidak sempurna. Oleh karena itu, sepatutnyalah kedua aspek penting dari agama kita itu tidak dihayati secara terpisah, tetapi dilaksanakan sebagai dua hal yang saling melengkapi dan harus dilakukan secara seimbang.

Sangat banyak penjelasan yang menjelaskan tentang tidak sempurnanya syari’at tanpa tasawuf dan begitupun sebaliknya.
Firman Allah SWT menjelaskan,
Artinya : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku (Q.S. Adz Dzariyat 51-56).
Ibnu Abbas menafsirkan ila liya’ buduuni dengan ila liya rifuuni dengan artinya: “Kecuali supaya mereka mengenal atau makrifah kepada-Ku”.

Sabda Rasulullah SAW (dalam hadis Qudsi), Artinya : Adalah AKU suatu perbendaharaan yang tersembunyi, maka AKU ingin supaya diketahui siapa Aku, maka AKU jadikanlah makhluk-Ku, maka dengan Allah mereka mengenal Aku.

Imam Malik mengatakan, Artinya : Barangsiapa berfikih/bersyariat saja tanpa bertasawuf niscaya dia berkelakuan fasik (tidak bermoral) dan barang siapa yang bertasawuf tanpa berfikih/bersyariat, niscaya dia berkelakuan zindiq (menyelewengkan agama) dan barang siapa yang melakukan kedua-duanya, maka sesungguhnya dia adalah golongan Islam yang hakiki, tulen.

Dan Dalam buku “Al Munqiz Minadlalal” diuraikan tentang para sufi yang banyak memberikan pendapat atau komentar berkenaan tasawuf dihubungkan dengan syariat, ini disebutkan di dalamnya.
a. Imam Al-Ghazali
Al Ghazali mengatakan, “Ketahuilah bahwa banyak orang yang mengaku, dia adalah menempuh jalan (tarikat) kepada Allah, tapi yang sesungguhnya, yang bersungguh-sungguh menempuh jalan itu adalah sedikit. Adapun tanda orang yang menempuh jalan yang sungguh-sungguh dan benar, diukur dari kesungguhannya melaksanakan syariat. Kalaupun ada orang yang mengaku bertasawuf dan bertarikat dan telah menampakkan semacam kekeramatan-kekeramatan, melalaikan atau tidak mengamalkan syariat, ketahuilah bahwa itu adalah tipu muslihat, sebab orang yang bijaksana (orang tasawuf) mengatakan,
Artinya : Jikalau kamu melihat seseorang mampu terbang di angkasa dan mampu berjalan di atas air, tetapi ia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syariat, maka ketahuilah bahwa sebenarnya ia itu adalah setan.”

b. Abu Yazid Al Bustami, menyatakan:
Artinya : Andaikata kamu melihat seseorang yang diberi kekeramatan hingga dapat naik ke udara, maka janganlah kamu tertipu dengannya sehingga kamu dapat melihat dan meneliti bagaimana dia melaksanakan perintah dan larangan agama serta memelihara ketentuan-ketentuan hokum agama dan bagaimana dia melaksanakan syariat agama.

c. Sahl at Tasturi
At Tasturi mengungkapkan tentang pokok-pokok tasawuf yang terdiri dari tujuh pokok jalan (tarikat), yaitu berpegang kepada Al Kitab (Al Qur’an), mengikuti Sunnah Rasul, makan dari hasil yang halal, mencegah gangguan yang menyakiti, menjauhkan diri dari maksiat, selalu melazimkan tobat dan menunaikan hak-hak orang lain.

d. Junaid al Baghdadi
Al Junaidi mengomentari orang yang mengaku ahli makrifat tetapi dalam gerak geriknya meninggalkan perbuatan-perbuatan baik dan meninggalkan mendekatkan diri kepada Allah, maka beliau mengatakan “Ketahuilah bahwa dia itu adalah setan”. Selanjutnya beliau mengatakan,
Artinya : Ucapan itu adalah ucapan suatu kaum yang mengatakan adanya pengguguran amalan-amalan. Bagiku hal itu merupakan suatu kejahatan yang besar, dan orang yang mencuri atau orang yang berzina adalah lebih baik daripada orang yang berpaham seperti itu.

e. Abul Hasan As Syazili
As Syazili mengatakan, Artinya : Jika pengungkapanmu bertentangan dengan Al Quran dan Sunnah Rasul, maka hendaklah engkau berpegang kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasul itu, sambil engkau mengatakan kepada dirimu sendiri “sesungguhnya Allah SWT telah menjamin diriku dari kekeliruan dalam Al Qur’an dan Sunnah Rasul”. Allah tidak menjamin dalam segi pengungkapan, ilham, maupun musyahadah (penyaksian), kecuali setelah menyesuaikan perbandingannya dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasul.
Sebagai kesimpulan, semua pengamalan kaum sufi harus mengikuti semua Nash Al Qur’an dan As Sunnah dan meneladani amaliah-amaliah Rasulullah, sebagai panutan tertinggi para sufi.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Syari’ah adalah ketentuan yang ditetapkan Allah kepada hambanya mengenai perbuatan lahiriah, seperti ibadah dan mu’amalat.
Sedangkan tasawuf ialah yang menyangkut dengan batiniah, seperti seperti akidah dan akhlak.
Syari’at dan tasawuf adalah setali mata uang yang tidak dapat dipisahkan karena syari’at tanpa tasawuf itu tidak sempurna, begitupun sebaliknya, tasawuf tanpa syar’at itu tidak dapat dibenarkan.

DAFTAR PUSTAKA
Maksum, Ali, Tasawuf Sebagai Pembebasan Manusia Modern, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar :2003).
Mahmud, Abdul Halim, Tasawuf didunia Islam, (Bandung, Pustaka Setia:2002)
Kartanegara, Mulyadi, Menyelami Lubuk Tasawuf,(Jakarta, Penerbit Erlangga:2006)
Ibrahim, Muhammad Zaki, Tasawuf Hitam Putih , (Solo, Tiga Serangkai:2006).
Tebba, Sudirman, Merengkuh Makrifat Menuju Ekstase Spiritual, (Ciputat, Pustaka Irvan: 2006)
http://www.Ngajiislam.blogspot
http://www.thesufi.co.cc

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s